Memasarkan Pasar

Salah satu hal yang digemari mayoritas perempuan adalah berbelanja. Dan aku termasuk dari sekian juta wanita di dunia ini yang menikmatinya, hehe. Jangankan belanja, diajak jalan-jalan hanya untuk melihat-lihat saja aku sudah bisa bahagia. :’)

Bagi beberapa orang aktivitas jual beli atau sekadar melihat-lihat dan berkeliling tempat berbelanja bisa jadi satu cara untuk melepaskan stress. Ada rasa bahagia ketika menjumpai dagangan yang tersusun rapi, memperhatikan pernak-pernik lucu, menghirup aroma jajanan yang dijual, melihat susunan baju-baju model terbaru yang terpasang di manekin atau sekadar mengecek berapa harga cabai di pasaran saat ini.

Aku termasuk orang yang tidak pilih-pilih tempat untuk berbelanja. Ke pasar modern maupun tradisional aku selalu menikmatinya. Pagi tadi selesai senam Minggu pagi di alun-alun kota, aku diajak oleh Lupi (teman kecil sekaligus tetanggaku) untuk menemaninya ke pasar. Pasar pertama yang kami kunjungi adalah Pasar Templek. Letaknya di sebelah selatan stasiun kota. Pasar ini aktif 24 jam loh, dari pagi hingga pagi lagi pedagang selalu ada.

Mayoritas pasar di Kota Blitar diberi nama sesuai hari Jawa. Tapi entah kenapa pasar yang satu ini namanya terkenal dengan sebutan Pasar Templek. Belum kutemukan jawabannya, sih. Hehe. Untuk orang-orang yang kurang nyaman belanja di tempat yang tidak bersih, mungkin Pasar Templek bukan alternatif yang cocok. Karena kebanyakan pedagangnya berjualan hingga ke tepi jalan, dan menggelar dagangannya begitu saja.

Pagi hari di Pasar Templek, becek, ga ada ojek~

Kelebihannya, di Pasar Templek ini mulai dari buah-buahan, sayur mayur dan bumbu dapur impor maupun lokal yang dijual lumayan lebih lengkap bila dibandingkan dengan pasar tradisional lain di kota Blitar. Bahkan terkadang pedagang di pasar lain mengambil dagangan dari Pasar Templek untuk dijual kembali di lapaknya di pasar lain. Ini lah yang kusukai jika berkunjung ke pasar ini. Kadang aku menemukan sayur atau buah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dan di pasar ini kutemukan jajanan tradisional yang jadi favoritku semasa kecil, namanya grontol. Pernah dengar atau pernah merasakan nikmatnya jagung yang dimasak dengan cara yang agak ribet ini? Lain waktu kuceritakan tentang grontol ini ya 🙂

Setelah puas berputar di Pasar Templek, aku dan temanku lanjut lagi ke Pasar Pon. Pasar ini letaknya di jalan Kartini. Dulunya, pasar Pon ini keadaannya kurang lebih hampir sama dengan pasar templek yang pedagangnya hanya berjualan di pinggir jalan saja. Tapi sejak direlokasi, kini pedagang bisa berdagang di dalam bangunan yang lebih bersih dan tertata lumayan rapi. Disini kita bisa lebih nyaman untuk memilih dan melihat-lihat dagangan karena keadaannya yang lebih bersih. Dan tentu saja tidak perlu takut kehujanan karena di dalam ruangan wkwk.

Di pasar ini kami berkeliling kemudian mencoba jamu yang dijual di area pasar. Karena aku tidak terlalu suka dengan rasa jamu yang pahit aku hanya berani mencoba jamu beras kencur, lumayan buat menambah nafsu makan katanya 😀 Temanku mencoba jamu yang namanya cukup asing hingga aku lupa namanya. Yang kuingat dia ingin membeli jamu “macan kerah” tapi pedagangnya bilang tidak ada. Aneh ya, namanya? Sama aku juga asing mendengar nama jamu itu 😀

Lelah berkeliling kamipun pulang dengan belanjaan yang lumayan banyak dan mata yang puas karena sudah melihat-lihat di pasar.

Di Blitar, pasar tradisional masih ramai dikunjungi warga. Karena barang yang dijual lebih lengkap biasanya daripada yang dijual di toko-toko modern. Tentu saja kita bisa nego harga dan memilih sendiri produk yang ingin kita beli. Beli bawang merah misalnya, kita bisa memilih dari yang kualitasnya standar hingga yang kualitasnya terbaik. Sebenarnya pasar-pasar tradisional di kota ini sudah direlokasi diberi tempat yang lebih bersih dan nyaman untuk pedagang maupun pembeli oleh pemerintah kota. Namun, beberapa pedagang memilih untuk menetap di lokasi yang lama karena sudah punya banyak pelanggan dan takut jika pelanggannya susah mencarinya, lalu enggan berpindah meskipun tempat yang baru lebih bersih.

Program relokasi ini masih mengundang banyak pro kontra di kalangan pedagang maupun warga masyarakat hingga kini. sebagian ingin jalanan kota steril, bersih dan rapi. Sebagiannya lagi ingin tempatnya mencari rejeki tidak dipindah.

Oiya, sesuai judul tulisan ini, aku ingin mengajak kalian yang membaca untuk berbelanja ke pasar. Dari pasar tradisional kita bisa melihat banyak hal selain transaksi jual beli, disini ada orang tua yang rela terjaga dari pagi buta demi menyekolahkan anak-anaknya, ada ibu yang bingung memasak apa hari ini agar anggota keluarganya lebih memilih makan di rumah daripada makan di luar, ada harapan dari para petani yang hasil panennya dipasarkan disini, dan banyak lagi hal lain yang terjadi di satu tempat yang kita sebut PASAR.

Jadi, jangan ragu belanja ke pasar ya! 🙂

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan dari #bloggerperempuanblitar
Baca juga tulisan teman-teman saya:
Ve
Mba Qq
Dhira


Advertisements

Persembunyian

Pernah merasa penat dan jenuh dengan segala macam rutinitas lalu memilih untuk pergi sejenak? Bukan untuk melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapi, tapi hanya untuk istirahat sebentar sebelum kembali bergelut dengan tumpukan realita hidup. Pernah merasa tidak ada orang yang mampu memahami maksud dan keinginan kita lalu memilih untuk sendiri menyepi di suatu tempat rahasia. Bukan untuk menghindar dari orang-orang yang membuat terusik, tapi hanya untuk menetralkan pikiran sebelum kembali berusaha menjelaskan arah kita.

Kalau jawabanmu “IYA” dan “PERNAH”, maka sama. Akupun.

Kadang, ketika mengalami hal-hal tersebut, aku memilih untuk sejenak kabur dan bersembunyi dari keramaian barang sebentar. Setidaknya hingga pikiranku tenang dan sudah tidak emosi. Aku percaya bahwa saat kita marah maka kita tidak boleh membuat keputusan dengan mendadak karena bisa jadi hal itu hanya dikarenakan emosi sesaat kita.

Tempat persembunyian utamaku adalah kamar tidur. Ruangan sempit di sisi selatan rumah. Kamar tidur kubuat sedemikian rupa agar terasa nyaman. Mengganti cat tembok, memasang lampu tumblr, hingga memasang cermin super besar di dinding ruangan kulakukan agar aku merasa tempat persembunyian utamaku ini adalah ruangan terbaikku. Benar saja, setelah dirombak kanan kiri atas bawah,kini kamar tidur adalah satu-satunya ruangan yang bisa kutempati seharian penuh ketika hari libur.

Kalau aku sedang malas bertemu dengan orang lain, tinggal kukunci saja pintu kamar dari dalam dan kuputar musik dengan volume agak keras. Dan jangan lupa nonaktifkan telepon genggam, hehehe.

Punya tempat persembunyian juga? Dimana?

Alasan Kenapa Tutut Belajar Nulis?

BIAR GA DI KICK DARI GROUP WHATSAPP AJA, SIH! :’)

Canda, hehe.

Sebelumnya di bulan Januari kemarin aku sempat ikut challenge
dari #30hari bercerita. Dan gara-gara itu pula mulai muncul perasaan “ternyata seneng juga bisa nulis kaya gini”. Sayangnya, ketika challenge-nya berhenti ditanggal 30, berhenti pula kegiatanku menulis.

Berawal dari pertemanan “mbulet” antara Tutut, Ve, Mba qq, dan Andhira akhirnya Tutut memberanikan diri untuk belajar menulis. Lain waktu akan kuceritakan satu persatu, dan betapa mbuletnya pertemanan kami. Yang jelas mereka adalah orang-orang dibalik kebersediaanku menulis dan membuat blog ini :’)

Singkatnya, sih mereka bertiga adalah blogger yang sudah lama aktif dan sama-sama berasal dari Blitar (kami berempat adalah warga Blitar). Minder ga sih temenannya sama blogger gitu. Orang-orang yang kemampuan menulisnya kalau dibandingkan denganku ini aku hanyalah si “elok-elok bawang”. Untungnya tiga orang ini mengijinkan aku menulis di caption instagram aja dulu. Hehe. Makasih lho~

Dua minggu lalu, ketika kami berempat berkumpul untuk pertama kalinya muncullah ide (yang sebenarnya bagiku adalah sebuah tantangan) untuk bersama-sama mulai rajin menulis.

Bagiku yang tingkat kemalasannya sudah berada di level tinggi, ide semacam ini mau tak mau pasti akan memaksa otakku bekerja lebih keras daripada biasanya. Belajar lagi soal merangkai kata menjadi kalimat, memperbanyak kosakata, hingga mencari tahu bagaimana agar tulisan yang kubuat semakin membaik kualitasnya.

Satu hal lagi yang selanjutnya menjadi pekerjaan rumah terbesarku adalah belajar tentang blog. Hmm… Ku hanya bisa berusaha dan berdoa semoga teman-temanku sabar mengajariku. Wkwk.

Baiklah, mulai dari titik ini. Semoga diriku tidak dikeluarkan dari group yha. Aamiin.

Dari kiri ke kanan: Andhira, Mba Qq, Tutut, Ve